When a man lost a woman (unedited)

January 30, 2008

When a man lost a woman

Setelah sekian lama sendiri saya mulai mendambakan rasa-rasa yang pernah dirasakan waktu mempunyai pasangan. Saat-saat dimana kita saling menyayangi, membagi, percaya satu sama lain dan yang pasti saat-saat waktu … (sebatas mana bayangkan sendiri).
Kangen juga perasaan saat ada yang memperhatikan segala tingkah laku maupun keadaan kita, saat-saat pasangan kita cemburu, masa-masa sewaktu kita dan pasangan melewati waktu yang bagaikan dunia hanya milik berdua sedangkan yang lain ngontrak untuk nambahin biaya kita pacaran….
Pasti masa-masa seperti itu pernah pula anda rasakan baik bagi yang masih sendiri (lagi) seperti saya maupun yang sudah menikah dengan pasangan hidup yang anda pilih saat ini.

Hidup itu nikmat bukan?
Seperti macam rasa. Ada manis, asin, pahit, pedas, hambar, anyep, semriwing, dan rasa-rasa lain yang wah, mak nyus-lah pastinya. Begitu pula dengan kehidupan cinta seseorang, ada masa memiliki dan ada masa kehilangan.

Ketika salah satu teman meminta tolong untuk mengungkapkan perasaan saya pada saat kehilangan seseorang yang saya sayangi kedalam suatu tulisan, cukup membuat bingung apa yang harus saya tulis berhubung sudah lama sekali sejak terakhir kali saya putus dengan seseorang. Bisa dikatakan saya enggan untuk membuka kembali buku yang sudah saya kubur dalam-dalam. Buku-buku penuh gambaran garis luka yang bahkan anda pun mungkin enggan untuk menyentuhnya. Tetapi demi memenuhi janji dengan terpaksa saya menggali hati dan membayangkan kembali apa yang saya rasakan saat itu.

Apa yang anda rasakan ketika saat pertama anda memutuskan suatu hubungan dengan seseorang? Sedih, senang, lega, kaget, bingung, marah, hampa? Hal itupun telah pernah saya rasakan, bagaikan perasaan aneh dalam hati yang lebih ajaib daripada disaat kita memulai hubungan dengan seseorang.
Perasaan sedih karena kita harus berpisah dengan wanita yang selama ini telah menemani hari-hari anda dengan suka dan cita.
Perasaan senang karena akhirnya kita mendapat jalan untuk dapat berhubungan dengan wanita lain yang menurut kita “lebih” dari pasangan kita sebelumnya.
Perasaan lega setelah dapat melepaskan diri dari rasa terkekang yang selama ini dirasakan selama kita menjalani hubungan.
Perasaan kaget karena keputusan yang tidak disangka-sangka datang tanpa ada asal usulnya.
Perasaan bingung pada saat kita tidak mengetahui apa kesalahan yang telah diperbuat hingga pasangan kita memutuskan hubungan.
Perasaan marah ketika kita tidak dapat menerima kenyataan bawa kita sudah tidak bersama lagi.
Perasaan hampa disaat kita merasakan ada sebagian dari diri kita yang hilang ketika tidak bersama lagi.
Mungkin masih banyak lagi perasaan yang tidak bisa saya gambarkan dengan gamblang karena lebih banyak rasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata dunia dan hanya hati yang mengerti.

Kehilangan memang tidak selamanya indah, tetapi kehilangan bukan berarti akhir dari segalanya. Kata-kata yang selalu saya coba untuk pahami namun sangat sulit untuk dimengerti. Mengapa harus saya miliki apabila akhirnya harus saya lepaskan. Namun dengan dukungan teman yang baik dan keluarga yang mengerti biasanya kita bisa mengesampingkan pikiran-pikiran negatif seperti itu dan akhirnya kembali menjalani hidup seperti biasa.

Bagi sebagian orang, wanita terutama. Banyak anggapan bila pria lebih mudah menghapus perasaan dan melupakan hal-hal yang telah lampau. Memang mayoritas pria normal lebih mengutamakan rasional daripada hati dan itu kenyataan. Tetapi hal itu tidak selamanya benar. Pada saat-saat kami diantara teman atau dihadapan orang lain kami berusaha untuk mengesampingkan semua hal yang tidak seharusnya kami tampakkan, namun pada saat sendiri, menatap langit menunggu tidur ataupun dikala melamun mengumpulkan “nyawa” setelah bangun dari tidur, hal-hal sensitif yang selama ini kami tenggelamkan akan muncul kepermukaan. Bisa dikatakan itulah saat-saat pribadi kami, lebih pribadi dari saat me”nongkrong” di kamar mandi sambil merokok dan membaca koran, saat-saat kami menelaah segala hal yang kami sembunyikan dan memikirkan cara bagaimana untuk menyiasatinya.

Pria hanya salah satu dari dua gender ras manusia yang ada di muka bumi yang juga mempunyai perasaan. Kami pun bisa sakit hati dan kami pun mengenal rasa sensitif. Namun mungkin kami menganggap perasaan dari hati sebagai salah satu sumber energi dalam menjalani hidup dengan rasionalisasi otak sebagai pengatur energi tersebut. Tanpa hati, kamipun mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *