Pagi-pagi sudah bikin post baru yang sedikit mengungkap hal buruk dan masalah uang. Rasanya gimanaaaa gitu, walau sedikit curhat
Tapi apa boleh buat, post ini terpaksa saya buat, tujuannya supaya seseorang disana yang pernah melakukan hal buruk ini sedikit tersentil, at least tahu bahwa tindakannya itu mengesalkan. Lebih baik lagi sih nyadar, bahwa karma itu ada. Mungkin gak kena ke diri sendiri, bisa kena ke istri, suami, anak / sanak family. Sehingga dia tidak melakukan hal ini lagi.
Memangnya hal apa sih?
Hal standard sih, baik di kantor, di rumah, dan dimana-mana. Banyak orang yang memiliki sifat egois / serakah atau gak tau terima kasih yang tercermin dari sikap orang tersebut dikala ia mengeluarkan uang.
Contohnya apaan tuh?
Yang paling saya jumpai dari dulu hingga sekarang adalah tipe giliran NGEBAYAR di entar-entar, tapi kalau MINTA bayaran ngejarnya setengah modar
hahaha… saya sudah rada kapalan nih sama yang ini.
Ada beberapa kejadian orang tua murid pada gak bayar lesnya 1 s/d 2 bulan. Tau-taunya cuman ngasih kabar gak nerusin lesnya. Ya dengan keadaan belum bayar uang lesnya itu. Yang anehnya kok bisa yah ngasih alasan banyaaaaaaaaaaaaaaakkkk banget. Dari sakit, keluar kota, kartu ATM hilang, klik BCA error sampai lupa ingatan. Hebat banget ngelesnya
wkwkwkwk…
Hal ini biasanya terjadi pada bulan-bulan liburan atau liburan puasa-ramadhan. Loh… bulan suci malah bikin dosa
hahaha…
Yang saya sesalin hanya 1 hal, yaitu bakat anaknya.
Lucunya, yang marah bukan saya, tapi orang rumah “kenapa kamu mau ngajar terus, kalo orang tuanya saja tidak menghargai kamu…?” yaaa… kalau saya sih berpikirnya kapan lagi dapat anak berbakat?…
Selain itu yang disayangkan sebenarnya bukannya mereka tidak menghargai saya, tapi yang disayangkan adalah, mereka tidak menghargai kemampuan anaknya. Kasus ini banyak saya temukan, setelah mereka berhenti, ya mereka tidak les lagi. Karena orang tuanya beranggapan les musik itu harusnya les yang murah, tapi kalau les bimbel untuk keperluan akademik bayar mahal adalah hal yang wajar (beda prinsip).
Memang dari awal sudah terlihat gejala penyakit uang ini. Tapi saya senang melihat anaknya dalam waktu 1 tahun ini sudah memiliki progress yang sangat baik setiap minggunya. Sayang, harus berakhir disini. Ya sudahlah… mau gimana lagi?
Money is not my dream for independence, if it is, i will never have it. The only real security that i can have in this world is a reserve of knowledge, experience, and ability.
Uang bukan impian saya dalam mencapai kemandirian. Kalau iya pun, saya rasa saya tak akan pernah bisa memilikinya. Karena modal utama dalam hidup ini berasal dari ilmu, pengalaman dan kemampuan.
.
Kejadian kedua mengenai hal buruk seputar uang. Yaitu orang yang tipenya suka tawar menawar bak membeli ikan teri di pasar
Harusnya orang-orang yang mau les piano private tahu harga les piano classic itu tidak murah (maaf) memang kenyataannya begitu. Harga pianonya saja sama dengan beli mobil (piano keadaan bagus, walau second), harga bukunya saja jatah makan 5 orang buat seminggu, lain hal kalo di photo copy; ini pun sebenarnya tidak diperbolehkan (copyright protected).
Yang lucunya, orang-orang tipe ini ingin kualitas bagus tapi bayaran yang murah
tipikal banget gak seeeeeeeeeeehhhh…
Padahal bayaran les private itu sebenarnya sama saja dengan anda pergi ke tempat kursus, hanya, tambahannya adalah, anda harus mengganti biaya tranportasi (bensin + tol jika ada). Kelebihannya adalah, les private ke rumah memberikan waktu 2x lipat dari tempat kursus. Udah enak begitu kan? malah masih tawar-tawar… priben…
People should understand, education is not a product, diploma, job, money in that order; it is a process, a never ending one. It costs a lot of money to get a good education, but then so does ignorance.
Orang seharusnya mengerti bahwa pendidikan bukan sebuah produk, titel, atau penghasil uang. Tapi pendidikan adalah proses yang tak berujung. Memang mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Sama besarnya pengeluaran jika anda tidak perduli akan pendidikan.
.
Hal buruk yang terakhir menurut saya adalah orang yang kebanyakan uang dan menganggap segalanya bisa tuntas dengan bayaran yang mahal. Waduh… ternyata bayaran kecil repot, dibayar mahal juga repot dong…
yaaaa… gimana ya? Hidup itu butuh uang, saya juga mau kerja dapat uang, tapi bukan karena uang saya menghalalkan segala cara kan?
hehehe…

Dulu ada salah satu murid WNA saya yang ngebet banget ikutan kompetisi piano dadakan. Tapi kalau melihat kondisi waktunya tinggal 1 bulan, tingkat kesulitan lagu, dan performance anaknya yang moody, kadang rajin-kadang malas. Ditambah bahwa kompetisi ini adalah ambisi sang ibu, bukan anak. Ibu asal kelahiran Canada ini memaksa saya untuk ngajar anaknya 3x seminggu – 2 jam sekali pertemuan. Bayangin dari Bintaro – Menteng, jamannya busway baru ber-operasi. Gaswat gak tuh macetnya.
hahahahaha…Saya langsung sakit tipes… wkwkwkwk…
Waktu itu saya bilang, ikut kompetisi saja tapi jangan ditargetkan harus juara, karena ini adalah langkah awal yang baik untuk perform. Tapi si ibu malah bilang saya negatif. Ya udah saya ikutin aja maunya. Dan bener aja deh, akhirnya bukan lagi juara, bahkan jauh dari itu. Kualifikasi tahap awal saja dia sudah tidak lewat, karena main lagunya gemetaran.
Ibunya tidak menyalahkan saya sih kalau anaknya tidak juara. Tapi anaknya malah down mental dan tidak mau main piano lagi. Dia merasa selalu tertekan oleh target yang ditentukan ibunya, (huff).
Semua orang tua punya ambisi yang terkadang anak tidak mengerti dan sering kali tidak sesuai dengan kemampuan sang anak.
Yah, begitulah… saya cuma bisa bilang sayonara kepada murid-muridku. Hanya karena uang saya harus kehilangan bibit pianist yang potential
