Salah Kaprah Tentang Belajar Piano

April 9, 2011

Sedemikian seringnya saya mendengar orang bertanya “Kenapa harus les piano dulu dalam les musik, kenapa tidak langsung gitar, saya kan maunya gitar, kok jadi piano dulu?…” Ada juga yang bertanya “Kenapa harus belajar musik classic dulu? saya kan sukanya pop jazz…”

Tapi yang membuat saya menulis post ini adalah karena baru saja terjadi kemarin, saya datang ke sebuah rumah di daerah BSD atas permintaan orang tuanya agar saya mengajar ke-2 anaknya. Setelah 1 jam saya melihat bobot musik dan bakat mereka, sebenarnya keduanya tidak senang dengan piano. Mereka lebih cocok menjadi penyanyi duet di-iringi si kakak yang senang dengan instrument gitar ketimbang piano. Tapi si ibu bersikeras agar anaknya yang baru berumur 6 dan 10 tahun itu untuk les piano privat. Keputusannya sih belum dipastikan jadi les atau tidak, karena buat saya, kalau anaknya sudah tidak enjoy untuk belajar, saya juga tidak mau mengajar. Memang mata pencaharian saya jadi tidak bertambah, tapi ya itu dia, prinsip saya; belajar sesuatu itu bukan harus dipaksa, tapi karena kesadaran dan mencintai mata pelajarannya, sama hal-nya dengan belajar musik.

Lalu apa yang salah dengan kejadian diatas? Selain si ke-2 anak merasa terpaksa harus belajar piano classic.

“… LES MUSIK ITU PENTING…”

Sebenarnya bukan hanya les musik yang penting, tetapi dikarenakan orang mencoba untuk menyeimbangkan aktifitas kerja antara otak kanan dan kiri. Sebagaimana otak kiri di-identikkan dengan kecerdasan analitik, contohnya kemampuan menyelesaikan soal matematika dan otak kanan biasa di-identikkan tentang kreatifitas, contohnya adalah kemampuan komunikasi (lingusitik) / jika ingin mendetail kemampuan dalam berseni.

Jadi jika anak anda ingin les membatik / melukis / photography atau les bahasa Mandarin, semua ini tidak kalah pentingnya dengan les musik.

“… UNTUK BELAJAR BASIC, PIANO ADALAH YANG TERBAIK, INI MEMUDAHKAN KITA UNTUK BELAJAR INSTRUMENT LAINNYA …”

Memang kita harus belajar merangkak, berdiri baru boleh berlari. Tapi sayangnya perumpamaan ini tidak bisa disamakan pada konteks belajar musik. Memang oktaf piano lebih banyak dari alat instrumen lainnya dan theori musik banyak ditemui di piano. Tapi ingatlah nasihat “fokus pada satu jurusan, dan kuasai agar bisa tampil dengan sempurna…” Jika anda ingin belajar gitar dengan memulai belajar piano, apakah anda tidak membuang waktu? Lagipula banyak juga maestro-maestro biola, gitar, drum atau lainnya bisa bermain luar biasa tanpa belajar piano terlebih dahulu.

Biasanya, dalam bermusik orang semakin kagum dengan penampilan yang di pertunjukan oleh anak-anak. Semakin kecil yang main, semakin kagum orang melihatnya. Dengan begitu populeritas pun mudah didapat. Apa jadinya kalau si anak sebenarnya berbakat dalam bermain gitar, tetapi malah di suruh belajar piano dahulu.

“… CLASSIC ADALAH ALIRAN MUSIK TERBAIK UNTUK DIPELAJARI…”

70% Orang Eropa adalah pencinta musik classic tapi juga sekaligus pencinta lagu Clubbing dan Pop rock. 55% Orang America pencinta lagu Classic juga pencinta lagu Country dan R&B. Walaupun ada pembuktian mengenai lagu classic bisa mengembangkan otak sang bayi yang masih di dalam rahim dan tanaman pohon yang tumbuh subur karena setiap hari diperdengarkan lagu classic. Pikiran, perasaan dan yang terpenting adalah mood kita sehari-hari tidak bisa hanya dengan menerima lagu classic.

87% Orang yang belajar music classic lebih sering mendengarkan lagu pop di ipodnya. 68% R&B dan 50% Hip-hop. Hanya 11% orang yang belajar music classic mendengarkan lagu classic di ipodnya.

Pelajarilah aliran musik yang anda sukai, lebih baik lagi, pelajarilah semua jenis aliran musik, karena selain bisa menyeimbangkan mood anda, masing-masing lagu memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Semakin banyak teknik musik yang diterima dari berbagai jenis aliran, semakin terampilah anda dalam bermain musik.

“… KALAU SUDAH TUA, SUDAH TELAT BELAJAR PIANO …”

Tidak ada kata terlambat, yang namanya orang belajar tidak ada batasan waktu. Bahkan semakin berumur kita harus semakin banyak belajar agar tidak menjadi pikun. Memang daya terima pelajaran lebih cepat diresap oleh anak-anak, tapi bukan berarti anak-anak mainnya lebih mahir dari yang sudah tua. Fakta membuktikan bahwa anak yang aktif dibidang gymnastic atau olahraga lebih cepat memahami dan memainkan musik. Tetapi banyak orang dewasa yang baru memulai les piano bahkan lebih cepat maju ketimbang anak-anak.

Menurut pengalaman saya mengajar semua tergantung kemauan, disiplin dan dedikasi. Anak-anak bisa cepat maju karena mental mereka yang terbuka akan menerima pelajaran, kekurangan dari anak-anak belajar piano adalah karena mereka tidak disiplin dalam mengatur waktu. Sedangkan yang menghambat orang dewasa untuk berkembang pesat dalam belajar piano selain mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya tapi juga dikarenakan malu dan kontradiksi.

“… PAKSA ANAK UNTUK LES PIANO, SUATU SAAT MEREKA AKAN BERTERIMA KASIH… “

Tidak sedikit anak-anak ABG yang datang ke saya dan berkata betapa bencinya ia dengan piano. Tapi saya juga mempunyai murid yang berumur 67 tahun kembali belajar piano setelah 38 tahun ia tinggalkan. Jangan biarkan anak menjalankan apa yang mereka tidak sukai, trust me. Les piano tidak-lah murah, bisa dibilang les musik itu investasi, sama saja anda menyekolahkan anak anda seperti sekolah akademik. Hanya saja, sekolah akademik mempertajam otak kiri, kalau les musik mempertajam otak kanan. Bayangkan kalau anda sendiri benci untuk belajar suatu mata pelajaran selama 12 tahun, sama halnya dengan memaksakan anak belajar piano.

Seorang anak yang bercita-cita menjadi dokter, dipaksakan untuk belajar piano dari umur 4 tahun, padahal ia ingin les melukis. Setelah berumur 17 tahun, waktunya masuk kuliah justru patah arang, meninggalkan pianonya yang sudah dibilang tergolong tinggi dan lulus dari kurikulum international dengan nilai tertinggi. Hitunglah 13 tahun pengeluaran les piano, biaya ujian, biaya les tambahan privat, berapa kerugian yang dialami orang tuanya. Sekarang ia kuliah di UI jurusan kedokteran dan les melukis.

Saya mengajar piano sejak tahun 1998, hingga kini saya masih mencintai pekerjaan saya. Namun kesan dari isi post ini sepertinya justru mengurungkan niat orang untuk les piano, yang mana bisa merugikan saya.

Sayangnya, kalau saja saya bisa bersikap ignorant / penggunaan seperti “kebanyakan orang”, teman bahkan orang tua yang berkata “sudah ambil saja muridnya, yang penting dapat duit…” Hmmmm… somehow gimana ya.. ini menjadi dilema atau mungkin saya terlalu idealistis mencari murid yang benar serius dan dedikasi dalam bermain piano. Walau pada kenyataannya hanya 1 diantara 30 yang benar-benar serius dalam bermain piano.

Dalam proses mengajar piano, saya telah mendapatkan ilmu dari mereka. Tidak perlu seorang psikolog untuk mengatakan anak-anak tertekan karena dipaksa belajar piano. Tidak perlu seorang ekonom untuk mengatakan bahwa  orang tua mengeluarkan uang dengan hasil dengan kemungkinan nihil. Tidak perlu seorang yang jago membaca pikiran kalau anak-anak ingin les biola ketimbang piano.

Tidak perlu seorang anak yang rebel untuk berteriak “Saya tidak mau les piano!… Kenapa gak Mama saja yang les!”

Leave a Reply