Salah Kaprah Ngajar Piano

December 4, 2017

Di hari guru, hari ini, tanggal 25 November, adalah hari yang saya tunggu untuk memposting artikel tentang salah kaprah ngajar piano.

Dulu saya pernah membuat artikel tentang Salah Kaprah BELAJAR Piano episode 1 dan episode 2. Tapi kali ini saya mau cerita pengalaman tentang ngajar.

Beberapa rekan-rekan pianist saya yang hara kiri karir mereka di kantoran karena mereka melihat saya begitu happy menjalankan karir sebagai guru piano.

Masih teringat dahulu, di tahun 2000, di malam resital gabungan dengan rekan-rekan saya yang sudah berumur senior (umur kuliahan). Setelah kami memberikan salutation kepada kehadiran-hadiri di ballroom hotel Hyatt, guru kami mengarahkan MICnya ke mulut kami, bertanya satu-persatu kepada murid-muridnya.

“Setelah lulus kuliah, karir apa yang ingin kamu geluti?”

Tanya-jawab ini di tonton oleh semua orang yang hadir menonton kami resital piano, termasuk orang-tua kami. Mereka tepuk tangan setiap kami jawab. Ada yang menjawab “saya mau berkarir menjadi Chemist” “jadi researcher” atau “jadi ahli matematika” dan benar ternyata teman saya berhasil jadi ahli kimia, dia hingga kini masih kerja di Jepang. Saya ingat betapa bangga nya raut wajah orang tua teman saya ini pada saat anaknya menjawab seperti itu di atas panggung.

Semua jawaban teman-teman saya begitu hebat. Dan hebatnya, hampir semua berhasil mengerjakan karir yang mereka mau. Termasuk saya “mau jadi guru piano” begitu jawab saya dulu.

Walau dapat tepuk tangan yang heboh, saya lihat wajah orang tua saya tidak begitu bangga. “Kenapa kamu gak jawab jadi Arsitek aja?” tanya papa saya di mobil. Dengan gampang saya jawab

“Mending kelihatan jadi orang kecil tapi sukses pah, daripada kesannya seperti orang hebat, kerjaan hebat, tapi ternyata gak sukses…”

Tentunya kata sukses diatas punya makna yang besar dan relatif ya.

Saya sendiri gak sadar bahwa kalimat saya di mobil itu, saat menjawab papa saya, memiliki berkah tersendiri ke diri saya.

Di tahun 2010 saat guru saya mengadakan resital besar-besaran di auditorium SGU (Swiss German University) BSD. Kami semua reunian, setelah resital selesai ngobrol dan ketawa-ketawa sampai pada suatu titik akibat kehabisan topik pembicaraan, rekan-rekan mengakui bahwa mereka tidak happy dengan pekerjaannya. Dan mereka kepengen jadi seperti saya. Jadi guru piano.

“…Kayaknya enak ya Tris, kerja cuma 4-6 jam sehari, kerjanya duduk-duduk dimainin lagu, dibayar lagi. Kalau jadi orang kantoran ada target, dikejar waktu, masuk kantor macet, pulang macet, kerjanya berat lagi. Belum biaya makan di luar, penampilan juga musti necis, trendy. Kalau jadi guru piano simpel aja, dari rumah-rumah, makan hemat di rumah, penampilan gak boros…”

Waktu itu saya kaget banget denger kalimat diatas yang dilontarkan oleh teman saya yang hidupnya bergelimangan harta. Gimana enggak, orang tuanya dulu salah satu business partnernya para saudagar Chinese-nya pak Presiden Soeharto. Orang tuanya juga salah satu sponsor kita semua, beberapa kali kita resital di hotel-hotel hebat; Le-meridien, Kempinsky, Hilton, just for FREE berkat orang tua teman saya ini.

Benar kata orang tua dulu, roda itu berputar, kadang diatas-kadang dibawah. Ternyata rekanku ini bernasib beda dibandingkan jaman dia masih kecilnya.

Pendek cerita, beberapa rekan saya yang karirnya sudah oke, diam-diam berkarir sebagai guru piano juga di rumahnya. Ternyata karir mereka hanya bertahan 3-4 tahun saja sejak thn 2004. Sedangkan saya sudah start ngajar sejak tahun 1998.

Satu persatu mereka mengakui kalau karir yang mereka kerjakan bukan passion mereka.

Menurut saya semua pekerjaan ada enak, ada tidaknya. Semua pekerjaan menopang tanggung jawab yang sama-sama berat, dan semua hal memiliki target.

Justru jadi guru memiliki tanggung jawab yang besar terhadap anak didiknya.

Kebayang kalau jadi guru di sekolah, tingkat stressnya besar sekali karena tanggung jawabnya juga besar. KALAU GURU NYA “BENER” loh ya…

Karena 19 tahun saya mengajar, banyak saya temui murid yang salah ajaran.

Maksudnya kok main piano jarinya berantakan didiamkan, ngajarin not kok pakai angka kan sudah ada partiturnya. Murid bisa main piano tapi kok gak bisa baca, AJAIB! kemarin ngajarinnya gimana toh? di-eja-in? dicontohin, disuruh hapalin? Apa mau instant, gak sabaran, kepengen cepet bisa main tapi gak mau proses belajar-ngajarinnya? ajaran yang ANEH.

“Anaknya yang mau kok…”

Ya jangan di-ikutin dong, arahkan ke yang benar. Kamu guru bukan? sekalian aja kasihin YOU TUBE, apa gunanya kamu?!

Makanya yang belajar dari youtube jarinya kayak kepiting kepleset.

“Tenang aja Tris, cuma les piano aja keleusss…”

Iya ya.. gak penting ya?, bayarannya juga yah, berhenti aja ngajar, jangan terima duitnya ya..

Plis deh, jadi guru piano gak asal! Bukan yg penting bisa main terus bisa ngajar.. Kalo mainnya “BENER” loh ya.

Tau gak, hampir semua rumah murid yang saya ajarin, TIDAK menyediakan minum buat saya. Yang edannya, saya ngajar 3 anak-anaknya. Gak satupun orang di rumah itu ngasih saya minum. Padahal mamanya ada, pembantu pun 3. Apa sih susahnya ngasi minum? Bisa sedian Aqua gelas doang kan. Tapi saya tetap ngajar dengan metode yang benar.

“Idealis?”

Biarin aja, yang penting murid saya sukses belajarnya. Hasilnya sudah 7 murid saya mendapatkan beasiswa melanjutkan studi-Piano nya ke luar negri. Amin, berkat bantuan Allah.

Banyak hal gak enak selama ngajar piano. Iyalah, segala sesuatu pasti ada tantangannya. Jadi guru piano gak ada THR / BONUS, gak ada TUNJANGAN. Keseringan dipandang sebelah mata “cuma guru”. Tapi begitu ngajar di JIS, NZIS, SIS dan sekolah-sekolah internasional lainnya, orang ternganga bangga “wah hebat kamu, luar biasa”.

Hebat apanya, bayaran nunggak semua, hahahaha. Sekolah tajir bayar honor guru les aja nunggak sebulan. Payah! Mungkin orang bangga bukan karena saya ngajar pianonya, tapi terkesan “sok nginggris” nya itu, hahaha.

Mungkin itu keanehan di Indonesia saja, dimana guru & music tidak begitu dihargai.

Jadi guru piano sering diremehkan oleh orang tua murid, bahkan gak dilihat. Bukannya saya baper/sensi ya. Banyak ibu murid saya suka ngatur-ngatur dan bicara seakan-akan saya pembantunya, bahkan saya harus moles & ngebersihin pianonya dari debu. Hahahaha..

Andai ibu itu tahu piano saya jauh lebih bagus dan mahal dari dia. Andai ibu itu tahu, guru piano ga ada yang kere karena biaya les piano itu lama dan mahal, biaya ujiannya juga mahal. Makanya dibilang les piano itu investasi. Gak sembarangan.

Anehnya, kalau ngobrol dengan ibu-ibu/bapak-bapak yang sudah berumur alias pensiun, kok malah memuji saya.

“Enakan kerja begini Tris, yang penting kamu happy… kamu gak perlu pengakuan dari dunia, titel, jabatan apalah itu… apa yang kamu hasilkan sudah luar biasa loh…”

Kalimat yang dikeluarkan oleh murid saya yang berumur 77 tahun ini, membuat saya terharu. Bukan karena merasa dihargai, yang mana jarang saya dapatkan, bahkan di keluarga sendiri. Tapi karena kata HAPPY tadi.

HAPPINESS dan PASSION

Memang betul saya mengajar murid-murid dengan happy. Kadang saya suka traktir PIZZA ke murid-murid karena mereka lulus test dengan nilai bagus. Atau kasih kado ke murid-murid yang ULTAH.

Saya suka dokumentasikan mereka ke HP dan foto-foto konyol setelah selesai les. Sering juga saya dengar curhatan mereka karena orang tuanya yang mau divorce, atau cerita kegiatan mereka di sekolah.

Saya memperlakukan murid-murid saya seperti teman / saudara / anak sendiri. Dengan begitu pun mereka memberikan hasil yang baik ke orang-tuanya dan ke saya, gurunya.

“Dan saya tidak perlu pengakuan dari orang / dunia” katanya, which is TRUE

Postingan saya kali ini bukannya mau menceritakan tentang diri saya loh.

Cuma mengharapkan guru-guru lama murid saya sebelum pindah ke saya, yg ngajarnya aneh bin ajaib. Tolonglah diajarkan dengan baik muridnya, kan sekarang saya jadi ngajarinnya susah banget gitu loh, musti brainwash dan start dari NOL. hahaha..

Kayak yang baca postingan ini aja (kasian de gue)..

Untuk guru-guru lain juga, selain guru piano moga-moga di tengah kelelahan, kecapaian bisa menemukan sedikit hiburan, untuk membuat diri kalian FRESH kembali. Carilah HAPPINESS dan kuatkan PASSION supaya murid-murid bisa mengingat & mencintai anda.

Iya suatu saat anda terlupakan begitu murid-murid pergi. Kesannya seperti “habis manis sepah dibuang”. Tapi itu lah guru, “Pahlawan tanpa tanda jasa”. Tidak ada yang mengingat betapa susah proses kalian sebagai guru mengajarkan murid sehingga mereka menjadi orang sukses. Tapi itulah kalian PAHLAWAN.

SELAMAT HARI GURU, para guru-guruku…

Leave a Reply