Ya benar, Hari ini tanggal 23 Juli adalah Hari Anak Nasional (kalo td ga denger di radio juga ga tau gw). Bagi sebagian orang mungkin tidaklah istimewa, mungkin juga bagi saya yang notabene belum punya anak.
Tapi diluar itu, apakah kita sebagai bangsa sudah memikirkan anak2 bangsa sendiri?
Kalau dilihat dari berita2 yang ada mungkin kalender hari ini terbenam oleh berita mutilasi, pemilihan gubernur Jatim, pemakaman narapidana mati, selipnya pesawat batavia air, dan lain2. Mengapa hari yang telah dicanangkan sebagi hari anak yang harusnya dirayakan nasional seIndonesia ini malah sepi2 saja?
Memangnya anak itu tidak terlalu penting yah bagi para petinggi2 dibanding dengan sodok sodokan untuk mendapatkan jabatan tertinggi di suatu pemilihan kepala daerah yang terbesar di Indonesia.
Coba lihat kebawahlah, ada 30 anak SD yang keracunan makanan bagaimana tanggapannya.
Apa karena sudah terwakilkan oleh para alumnus salah satu Universitas negeri itu yang notabene adalah Ketua pansus Pemilu Presiden?
Atau dengan acara yang dihadiri presiden dan para punggawanya itu di TMII yang tidak terlalu diekspos?
Entahlah bagi yang lain, tapi bagi saya seorang pribadi, saat ini lebih memikirkan bagaimana pendidikan yang semakin mahal ga jelas. Sebenarnya ada demo yang dilakukan oleh puluhan anak pemulung hari ini disuatu daerah tetapi saya lupa dimana karena tadi dengar dari radio.
Cukup miris kalo denger..
Mereka berhenti sekolah karena tidak sanggup membayar. mungkin pendengaran saya yang kurang jelas atau memang terputus2 tadi, mereka tidak bisa membayar buku yang katanya sampai Rp.500 ribu rupiah. BUKU!!!! 1/2 juta!! anak SD!!!!
Bagi yang tidak tahu menahu, hal itu benar adanya. Dikarenakan, bulan ini saya mengeluarkan sejumlah uang yang cukup besar untuk membantu orang tua membayar uang buku adik saya yang kelas 4 SD dan 2 SMA, dan mereka itu berada di sekolah negeri bukan swasta.
Memang uang sekolah tidak terlalu mahal/memberatkan, namun pengeluaran untuk hal tetek bengek lain yang terlalu mengada2. Buku memang penting, tapi apa memang harus dibeli semua dan benar2 diperlukankah?
Mengapa tidak dapat menggunakan buku lama dan harus menggunakan buku baru yang padahal isinya sama walaupun katanya kurikulumnya beda.
Sebenarnya program supaya anak Indonesia itu pintar benar2 ada atau tidak? atau yang ada itu program membodokan anak2 supaya nanti tidak neko2 minta yang tidak2 ke pemerintah?
Bila kita hubungkan dengan pengurangan subsidi BBM kmarin dan adanya program BLT itu, mengapa tidak dialihkan ke pengGRATISan pendidikan diseluruh SD negeri d Indonesia, baik dari uang sekolah sampai buku, seragam dan uang bangunan.
Saya lebih rela BBM mahal tanpa subsidi bila anak2 generasi dibawah saya dapat sekolah GRATIS tanpa diubek2 atau dipusingkan oleh masalah keuangan.
Bukankah negara yang besar itu adalah negara yang dapat membawa generasi penerusnya ke jalan yang lebih baik supaya dapat membangun negeri ini nantinya.
Gila… tumben gw serius…
Cukup ah numplekin unek2nya hari ini, bisa heran yang baca kalo liat gw serius…..
Terimakasih atas perhatian dan kesabarannya mebaca tulisan ga mutu ini..
tertanda
ndilalah si woelank
*ada bahasan yang menarik untuk dibaca di:
- Jurnal Sang Hari