Pernah gak dengar orang berkata “duh gue BB-an mulu udah kek orang autis aje nih”… atau dengar orang nanya ke temen kantornya “woi nape luh, lagi autis yey?”.
Aduh, sebenernya mereka tahu gak yah kata autis terhadap beberapa orang sebenarnya cukup berbahaya dan dapat menyinggung perasaan. Langsung aja saya suruh mereka baca salah satu postingan teman saya tentang autisme dan seberapa dalam makna autisme terhadap beberapa orang yang mengalami itu.
Ternyata kebanyakan dari mereka masih belum menangkap bahwa sebenarnya kata autisme itu tidak pantas dijadikan bahan lawakkan bahkan dijadikan bahan becandaan di sembarang tempat.
Trisna : “hmmmm… susah juga yah, sama saja seperti bercandaan orang sewaktu latah, waktu dikagetin mereka akan bilang.. eh KOn**… yang mana semua orang tahu dengan jelas itu salah, tapi kenapa sekelilingnya tetap tertawa”
Woelank : “kamu sebenernya tahu gak sih yang dibilang autis itu apa?”
Trisna : “tahu lah, autis tuh gangguan perkembangan fungsi otak yang komplex dan sangat bervariasi. Intinya ada penyimpangan dalam pertumbuhan seorang anak baik secara mental, tingkah laku dan kemampuan besosialisasi dgn sekitarnya.”
Trisna : “jadi mereka itu sebenarnya cerdas tapi ga tahu make kecerdasannya itu buat apa, dan karena mereka terlalu pinter mereka jadi sulit menerima kalo ada yang gak cocok ama yang dia suka. Dia akan mengamuk, lalu menggigit atau menolak untuk dipeluk.”
Trisna : “Dulu murid piano ku kan juga di bilang autis sama dokternya, kalau orang tuanya jelas berkata bahwa anaknya spesial, begitu mereka berkata spesial, aku nangkep maksudnya bahwa she’s different from the other kids”
Woelank : “emang anaknya gimana? persis temenku yang di blog itu gak?”
Trisna : “yeah, mirip, itu karena mereka memiliki dunia sendiri dan terkadang kita harus ikutan jadi mirip seperti mereka untuk mengerti apa mau mereka. Dulu sih awal-awal ngajar piano, aku di cuekkin, kadang di gebukkin tas pianonya, pernah disiram air minumnya dia, terus pernah di tendang-tendangin”
Woelank : “terus? berhasil gak ngajarin dia? kamu gimana tuh?”
Trisna : “yeah, awal-awal sih gondoknya se-langit bayangin aja lagi capek pulang kuliah, jurusan arsitek pulak, perut keroncongan, betis pegel gara-gara macet tau-taunya datang niatnya mau ngajar, malah digebukkin. Tapi lama kelamaan jadi sayang, si Patty itu pernah ngehajar kotak pensil ke kepalanya terus-terusan, waktu dilarang dan dikasih tahu bahwa itu kan sakit, tapi dia bilangnya malah enak” (aduh).
Hmmmm… kalau kira-kira saya mengalami ini, apa rasanya ya? jelas tidak mudah loh. Apalagi mendengar kejadian yang menimpa teman-teman saya, setiap kali mereka bercerita, saya bisa lihat mata mereka bersedih. Dan kalian harus lihat akibat dari kata “autis” itu dilontarkan, mata mereka penuh dengan perasaan yang terhina, tersinggung dan sedih.
Trisna : “oh iya, kamu musti tahu, si Patty itu paling takut kalau mandi, dan tidak mau mandi sih tepatnya. Kata dia, air menyakiti dia, setiap kali dia mandi serasa ada jutaan semut mengigit dia secara bersamaan dan bertubi-tubi. Dan memang betul karena sugesti dia yang berlebihan akhinya kulit diapun merah-merah seperti rash, diakibatkan panik yang berlebihan ditambah guratan tangan yang di garok-garok ke kulitnya”
Bayangkan bila anak anda atau salah satu anggota keluarga anda ada yang menjadi penyandang Autistic, apakah anda akan tertawa bila mendengar ada orang yang bercanda dengan kata2 “autis”?
Seharusnya orang tidak lagi ngebanyol dengan mengatakan kata “AUTIS” lagi. Memang kata2 autis bukanlah milik suatu pihak tertentu tetapi kadang kita yg sering tidak perduli dengan arti sebenarnya dari kata tersebut sehingga sebenarnya dapat menyinggung perasaan orang, bagi mereka orang tua ataupun keluarga para penyandang autistic.
Jadi, daripada menggunakan kata “autis” sebagai olokan org yg sedang sibuk/menyendiri hingga tdk perduli dengan sekitarnya, kenapa ga pake kata2 “lagi cari wangsit”, “lagi semedi”, atau kata2 lucu2an lain yg tidak akan menyinggung orang lain….
Regards..
Woelank n Trisna
* Obrolan Singkat ini terjadi karena banyaknya imel, tulisan di blog maupun di facebook akan salahnya mengatakan “autis” sebagai bahan candaan dan keinginan si woelank utk bikin post ini cm krn kebolotan dia dimasa banyak kerjaan jadilah minta tolong ke saya.
** woelank berterima kasih kepada silly atas beberapa kata2 yg dimasukkan dari hasil chatnya kemaren.
*** Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai ASD (Autistic Spectrum Disorder ) alias autis bisa dilihat lebih lanjut di http://puterakembara.org
**** Bila ingin mensupport gerakan “Stop using ‘autis’ word in daily jokes” dapat join di facebook cause
KEPADA MAS/MBAK AUTISTO DE GABLEKO DI JAKARTA YANG TERHORMAT, MOHON MAAF COMMENT ANDA TERAKHIR SAYA MODERATE. Saya disini hanya sebagai teman yang ikut mensosialisasikan saja, apabila anda tidak suka dengan teman saya itu kenapa tidak anda komen saja langsung diblognya sana, jangan beraninya ngomong dibelakang. Gue yakin temen gue itu juga ga minta dikasihani dan tidak seteledor itu. DAN UNTUK SEMUANYA, MOHON MAAF PULA COMMENT DI POST INI SAYA CLOSED UNTUK MENGHINDARI ADANYA KOMENTAR2 YANG AKHIRNYA MALAH MEMPERKERUH KEADAAN.